Subsidence Song

[Gulir ke bawah untuk Bahasa Indonesia]

This sound work was produced for the 2019 exhibition ‘-2m, Voices From (Below) the Sea’ at the Jakarta History Museum. The 4 channel sound work was located in a basement room permanently inundated with water as the result of the museums location 2 meters below sea level and close to the coast.

——

Land subsidence is perhaps the very slowest of man-made disasters. It moves almost in geological time, without the sudden drama of an earthquake or tsunami. Quietly, mournfully, Jakarta is sinking into the sea, a constant movement too slow for human senses to register. Its pace is out of sync with Jakarta’s attention span, jostled here and there by urgent daily problems. It is thus easily forgotten, until it makes itself known with every king tide, or river flowing surreally backwards.

The cause is easily identified. Factories, malls and apartment blocks ensure they get a steady supply of water by boring into the third aquifer below Jakarta, at a depth of 300 metres. The water is used to flush away chemical residues in factories, or it fills rooftop swimming pools with views to the sea. The pace of extraction is out of sync with the replacement rate of underground hydrological cycles, but in line with the city’s thirst for development. 

This piece of music uses data on the rate of land subsidence in several sites along Jakarta’s coast since 1979, condensing and mapping a 40 year downward trajectory into a 4 minute song, a favoured block of time for listening and committing to memory. The song is composed from samples of Ismael Marzuki’s classic keroncong ballad, ‘Bandar Jakarta’, a nostalgic ode to Jakarta Bay. As the piece progresses it is slowly sunk, gradually losing its higher frequencies and deteriorating into a deep distorted, mournful refrain. 

The four speakers spread across the room play the sinking of specific sites on Jakarta’s north coast – Kamal Muara, Pantai Mutiara, Ancol and Cilincing. They play the same song but distort at different paces, reflecting the highly localised way land subsidence occurs. The space where this work is exhibited, the now permanently flooded women’s prison of the former Batavia town hall, plays its part as the basement waters assist in dampening the song’s higher frequencies.


Karya suara ini dibuat untuk dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta sebagai bagian Pameran ‘-2m, Suara Suara Dari (Bawah) Laut pada bulan Mei-Juni tahun 2019. Karya itu terletak di sebuah ruang bawah tanah, yang selalu terendam air akibat penurunan muka tanah di lokasi museum dan posisinya di dekat pantai.

Penurunan tanah kemungkinan adalah bencana buatan manusia yang paling lambat prosesnya. Bergerak mengikuti waktu geologis tanpa kejadian yang tiba-tiba seperti gempa bumi atau tsunami. Diam-diam tapi memilukan, Jakarta tenggelam, bergerak perlahan terus-menerus tapi terlalu pelan untuk bisa dirasakan manusia. Kecepatannya tidak mampu mengikuti dengan apa yang menjadi prioritas Jakarta, berhimpitan dengan masalah sehari-hari yang mendesak. Sehingga dengan mudah terlupakan, lalu membuatnya terlihat didepan mata ketika air pasang terjadi, atau sungai mengalir dengan arus berlawanan yang tampak muskil terjadi. 

Penyebabnya mudah diidentifikasi. Pabrik, mal dan apartemen mendapatkan pasokan air yang tetap dengan mengebor tanah hingga akuifer ketiga sedalam 300 meter di bawah Jakarta. Air ini dipakai untuk membilas residu-residu kimiawi di dalam pabrik, atau untuk memenuhi isi kolam renang rooftop yang menghadap laut. Laju ekstraksi tidak selaras dengan laju pergantian siklus hidrologi di bawah tanah, tetapi selaras dengan kota yang haus akan pembangunan.

Komposisi musik ini disusun berdasarkan data laju penurunan tanah di beberapa lokasi sepanjang garis pantai Jakarta sejak 1979, meringkas dan memetakan rentang 40 tahun menjadi sebuah lagu berdurasi 4 menit, sebuah babak waktu untuk mendengarkan perjalanan memori. Lagu ini disadur dari keroncong klasik ‘Bandar Jakarta’ oleh Ismail Marzuki, sebuah ode nostalgia untuk Teluk Jakarta. Saat lagu menyentuh nada-nada ‘tenggelam’ perlahan frekuensi tinggi menghilang, mendistorsi menjadi refrain yang menyayat.

Empat pengeras suara terpasang menyebar di ruangan memainkan komposisi lokasi-lokasi yang tenggelam di garis pantai utara Jakarta – Kamal Muara, Pantai Mutiara, Ancol dan Cilincing. Lagu yang sama dengan distorsi berbeda-beda, merefleksikan lokalisasi penurunan tanah yang sedang terjadi. Ruangan tempat karya ini berada adalah penjara wanita di bangunan balai kota Batavia yang selalu tergenang, menjadikan nada-nada tinggi lagu teredam.