Proposal

[Gulir ke bawah untuk bahasa Indonesia]

A series of seven, thousand high poster stacks laid out on the floor of the Jakarta History Museum for visitors to view, take home and disperse. This work was part of the exhibition “-2m: Voices From (Below) The Sea, held at the Jakarta History Museum in May – June 2019.

Artist Statement:

Jakarta has been extended out to sea many times. Fishermen bring sacks of mussels from the ocean and women and teenage girls make middens. The biggest ones by far are in Cilincing, heaped up against the new sea wall. 

Jakarta has been extended out to sea many times. Fishing communities have made the land their houses are built on with the persistent everyday labour of retrieving mussels from the sea and shelling them. Salvage work, an accumulative land claim, the sedimented sociality of human labour. A midden is a monument, but it’s also a happening. 

These proposals are for you, visitor, to take home as a trace of this sociality and as a series of actions you might want to help realise in the future. Help dissolve this artwork into the soup that is Jakarta by taking these posters into your domestic space, your neighbourhood space. There they may linger as propositions for new bonds between the sea and the land, the north and the south, and a new recognition of the harsh labour that keeps Jakarta’s head above water. 

serangkaian tujuh tumpukan poster, tiap tumpukan berisi seribu, yang ditaruh di lantai ruang mural di Museum Sejarah Jakarta. Para Pengunjung disilahkan untuk mengambil dan membawa pulang poster posternya. Karya ini merupakan bagian pameran “-2m: Suara Suara Dari (Bawah) Laut, yang diselenggarakan di Museum Sejarah Jakarta pada bulan Mei – Juni tahun 2019.

Deskripsi Karya:

Jakarta melebar hingga ke laut berkali-kali. Nelayan membawa karung kerang dari laut, para ibu dan remaja membangun timbunan cangkang. Timbunan terbesar ada di Cilincing, menumpuk di tanggul laut baru.

Jakarta melebar hingga ke laut berkali-kali. Kampung nelayan dibangun warganya di atas lahan yang terbuat dari kegigihan sehari-hari mengambil kerang dari laut dan mengupasnya. Pekerjaan arkeologis yang menghasilkan akumulasi penguasaan lahan, kehidupan sosial buruh kerja yang tersedimentasi. Tumpukan cangkang itu adalah sebuah monumen, tapi juga sebuah peristiwa.

Proposal ini adalah untukmu, para pengunjung, bawalah pulang sebagai jejak sosial sekaligus sebagai inspirasi aksi yang mungkin ingin kamu wujudkan di masa depan. Bantulah melarutkan karya ini ke dalam ‘sup’ Jakarta dengan membawa poster-poster ini ke dalam ruang hidupmu, ke dalam lingkungan sekitarmu. Di sana kelak poster-poster ini akan tergeletak sebagai wacana untuk sebuah relasi baru antara laut dan darat, Utara dan Selatan, dan sebagai bentuk pengakuan tentang kerja keras yang menjaga pucuk Jakarta tetap di atas air hingga kini.