-33m

[Gulir ke bawah untuk bahasa Indonesia]

2019 installation work by Jorgen Doyle, Tita Salina, Irwan Ahmett and Hannah Ekin.

Artist Statement:

“Tell me about extinction,” said Alina to the storyteller.  

  – Seno Gumira Ajidarma, ‘The Last Becak on Earth’

 

Through unexpected encounters during our ‘Ziarah Utara’ walk across the Jakarta coast in March and April 2019, we dove into narratives of the capital city of Jakarta. We searched for becaks, three-wheeled environmentally friendly vehicles that once crowded Jakarta street corners. Because they were considered unmodern, and blamed for the city’s swelling traffic jams, becaks were banned from operating in Jakarta. Wounding Jakarta’s identity, tens of thousands of becaks, representing the livelihoods of many of Jakarta’s poor, were piled in heaps in municipal yards, and later thrown into Jakarta Bay to become artificial reefs. Piles of becaks on the sea floor became places for fish to happily breed, and Soeharto (Indonesia’s second president) would often mull over the political situation in the republic while fishing above the reefs, a favoured pastime of his. 

 

-33m is an intervention that acknowledges that daily struggles for livelihoods and the sheer human sweat extracted through the demands of various forms of labour can never be completely expunged from Jakarta. We have listened to tales of struggle told through the mellifluous melodies of Pak Rasdulah (a becak driver who famously nominated himself as a candidate for governor of Jakarta in 2002). We have searched for sunken becaks in Jakarta Bay. Searching for a tiny spot in the sea requires luck, intuition and a strong memory, and this was found in the person of Pak Kwik. With Pak Kwik’s assistance, the place where becaks were sunk 35 years prior was located. A short expedition to sea was launched, and we were able to retrieve fragments of forgotten Jakarta history, the bitter story of the becak and the fate of its drivers. These pieces can become ‘relics’ with which to salvage Jakarta’s sunken identity.

2019 karya instalasi, ciptaan Irwan Ahmett, Jorgen Doyle, Tita Salina dan Hannah Ekin.

Deskripsi karya:

“Ceritakanlah padaku tentang kepunahan,” kata Alina pada tukang cerita itu. 

Seno Gumira Ajidarma, ‘Becak Terakhir di Dunia’.

 

Lewat pertemuan  tidak terduga sepanjang perjalanan Ziarah Utara pada Maret-April 2019 silam, kami tertarik untuk menyelami narasi identitas Ibu Kota melalui penelusuran keberadaan Becak sebagai kendaraan roda tiga ramah lingkungan yang dahulu pernah memadati sudut jalanan kota Jakarta. Karena dianggap ketinggalan zaman dan tidak terkendali, pemerintah melarang becak. Seiring meninggalkan lubang menganga pada jati diri kota, ribuan rongsokan sisa dari rantai mata pencaharian warga miskin itu terputus, ditumpuk tak tertampung lagi lalu dibuang ke Teluk Jakarta menjadi rumpon. Tumpukan bangkai becak kemudian berfungsi menjadi tempat ikan-ikan berkembang biak dengan bahagia bahkan menjadi tempat kesukaan Soeharto untuk merenungi situasi politik di Tanah Air sambil memancing diatasnya.

-33m merupakan sebuah intervensi dalam memahami kembali bagaimana perjuangan dan butiran keringat manusia yang disingkirkan pekerjaannya tidak akan pernah bisa dimusnahkan sepenuhnya dari Jakarta. Dalam prosesnya empat seniman mulai mendengarkan kisah nyata dari lagu-lagu merdu kreasi Pak Rasdulah (seorang tukang becak yang mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta di tahun 2002). Langkah berikutnya adalah mencari Becak di lautan. Mencari titik di tengah laut membutuhkan keberuntungan, intuisi dan kekuatan ingatan. Akhirnya lewat Tionghoa bernama Pak Kwik, mereka mengetahui keberadaan lokasi tempat becak-becak ditenggelamkan 35 tahun lalu di Kepulauan Seribu. Dengan ekspedisi singkat mereka berhasil mengangkat kepingan sejarah Jakarta yang terlupakan yaitu  kisah becak dan kegetiran nasib pengayuhnya. Walau tidak lagi lengkap namun serpihan Becak bisa menjadi ‘relikui’ untuk mengangkat kembali jati diri kota Jakarta yang tenggelam.